Cerita Kunang-Kunang Catatan Pikiran dan Hati Ratusan Kunang-Kunang
Group Members
  • arviananerissa
  • ayihastuti31
  • dilukmankan
  • dinwahid
  • fildzahamalya
  • greenndyshe
  • ishomdrehem
  • jamikanasa
  • jolayjali
  • josandymahaputra
  • mutmainnahlatief
  • randi-syafutra-world
  • rasyidalfath
  • rerenitaputri
  • rescueiffah
  • risaumamink
  • riskhatri
  • sherwinufi
  • sulistyoningrum
  • syarifff
  • tausendsunny
  • yasirmukhtar
  • zizaonfire
  • zulfikarfirdaus
  • risaumamink published a video post 3 months ago

    ‪#‎SimfoniMahameru‬

    Filosofi mendaki bisa dianalogikan dengan kesuksesan seseorang.
    Ketika kita melihat ke atas, bisa jadi kita membayangankan seandainya kita bisa seperti orang yang lebih sukses dari kita itu,
    namun ketika melihat ke bawah ternyata ada orang yang posisi/derajatnya berada di bawah kita.
    Hal ini mengingatkan kita untuk bersyukur, dimanapun posisi/derajat kita saat ini, itu adalah hasil dari usaha kita.
    Siapa pun bisa berada di puncak kesuksesan, tergantung bagaimana usaha dan keyakinan kita untuk mencapainya.
    __________________________________________

    Gathering Forum Indonesia Muda di Gunung Mahameru
    Mei 2015 :) (diambil dari tautan Bintang - FIM 15)

    Archived in: #FIM repost / 4 notes
    Show the 4 notes
  • greenndyshe reblogged a text post 4 months ago
    Catatan Kunang-Kunang #1

    Sebenarnya, saya tidak menyangka akan benar-benar ikut Forum Indonesia Muda (FIM) Angkatan 16. Saya berencana ikut FIM dulu ketika saya masih menyandang status sebagai Mahasiswa. FIM 15 saya juga tidak jadi mendaftar karena bertepatan dengan jadwal sidang presentasi progres TA.

    Ada satu hal yang menurut saya sangat penting  dan sangat perlu untuk menjadi alasan utama ikut Forum ini, yaitu lingkungan. Saya atau mungkin kita semua memerlukan teman yang satu frekuensi, ngomong sedikit langsung nyambung, kode sedikit langsung nerima. Artinya, orang-orang yang berada dalam satu lingkungan ini telah memiliki frekuensi yang sama. Dan hebatnya adalah, frekuensi itu terpancar di berbagai tempat di Indonesia.

    Saya baru pertama kali mendaftar forum ini dan alhamdulillah langsung diterima, meski baru menyelesaikan berkas-berkasnya H-2 penutupan. Perasaan saat diterima, biasa-biasa saja. Semacam bingung juga mungkin kenapa diterima.

    Saya dulu sempat bertanya, mengapa teman-teman di sekitar saya yang sebelumnya sudah ikut FIM heboh sekali. Mungkin benar, untuk benar-benar tahu apa yang terjadi kita harus masuk ke dalamnya. Kini saya paham mengapa forum ini berbeda dari forum-forum yang lain. Mau tahu bedanya? Harus masuk dulu :p

    Ada beberapa catatan menarik yang saya ambil dari forum ini. Selain begitu sederhananya forum ini diadakan, baik tempat, konsumsi, dan sebagainya. Namun, konten yang disajikan tidak ada sederhana-sederhananya sama sekali. Pemateri yang dihadirkan pun tidak main-main. Mau tahu kira-kira seperti apa pematerinya? Daftar aja FIM berikutnya :p

    Selain itu, kitta dituntut untuk bekerjasama dengan latar belakang yang berbeda. Tidak hanya masalah latar belakang budaya secara seni atau tingkah laku, tapi juga budaya kampus. Bukan kebetulan bahwa orang-orang yang menjadi peserta dalam forum ini adalah aktivis-aktivis kampus, dengan segala macam organisasi yang dia ikuti sebelumnya. Setiap kampus di Indonesia memiliki warna tersendiri, dan di forum ini semua itu melebur. Seandainya setiap kampus mau melakukan kerjasama, komunikasi, hal-hal positif semacam itu untuk membangun jaringan yang kuat. Saya yakin, tidak ada yang namanya bakar-bakaran di kampus dan sebagainya. Sayangnya, arogansi kampus saat ini masih sangat kentara, saling membanding-bandingkan dan merasa dirinya yang terbaik. Hal ini pula yang tergambar dalam benak anak-anak SMA ketika kakak-kakak kelasnya datang mengenalkan almamaternya.  Seharusnya, setiap kampus ini sadar bahwa saingannya bukanlah kampus-kampus se negeri, tapi kampus di luar negeri sana. Di forum ini, tidak peduli kampus kita dari mana. Karena di sini kita sama-sama belajar. Sama-sama sadar diri bahwa ada hal yang jauh lebih penting daripada ngurusin warna jas almamater. Ada yang lebih penting dari itu.

    Orang-orang yang masuk ke dalam forum ini jelas melalui proses seleksi. Artinya, orang yang masuk berarti telah melewati satu proses dan ini bisa menjadi jaminan bahwa orang yang hadir memang berkualitas. Dalam sebuah organisasi, forum seperti ini bisa menjadi besar karena saya percaya bahwa masing-masing individu ini adalah orang terbaik. Hal ini saja sudah menjadi modal awal untuk membangun organisasi dengan baik.

    Saya percaya bahwa dengan modal itu, tidak perlu repot-repot melakukan proses-proses panjang dalam komunikasi. Semua bisa berjalan lebih efektif dan efisien, karena orang-orangnya pun telah memiliki frekuensi yang sama. Memiliki pergerakan yang meski berbeda, mereka memiliki tujuan yang sama. Saling mendukung satu sama lain.

    Hal yang sangat-sangat luar biasa dalam forum ini adalah jaringan. Jaringan yang tidak sekedar jaringan, karena orang-orang yang berada dalam jaringan ini adalah orang-orang yang insyaallah baik, memiliki niat baik, memiliki karakter yang baik, memiliki kekuatan yang baik. Setiap langkah kecil kaki kita akan selalu mendapat dukungan. Memiliki orang-orang yang siap-sedia memberikan semangatnya. Memiliki teman-teman yang bercita-cita sama.

    Semoga kita semua kelak bisa bertemu pada satu titik tujuan kita, seperti apapun langkah yang kita ambil. Bukan soal cepat atau lambat, karena semua ini adalah proses dan setiap proses memberikan pembelajaran. Terima kasih juga untuk Angkatan 16 yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memimpin angkatan ini, saya secara pribadi mengucapkan terima kasih dan juga mohon dukungannya untuk membawa angkatan kita ini melangkah sesuai dengan cita-cita dilahirkannya angkatan 16.

    Menjadi apapun kita nanti, kita tetap sehati. Apapun yang terjadi nanti, kita tidak sendiri.

    - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

    Kurniawan Gunadi

    Catatan : Forum Indonesia Muda - Angakatan 16

    Selamat Datang Para Penggerak Perubahan #FIM16

    Archived in: #Forum #Indonesia #Muda #FIM #FIM16 #FIMsick / 68 notes
    Show the 68 notes
  • riskhatri published a text post 8 months ago
    Perjalanan Kunang-kunang part 1

    ini ceritaku, mana ceritamu? :)


    Memang butuh perjuangan dan pengorbanan tulus, sekalipun hanya untuk mencoret sebuah mimpi.—@IPSempurna


    menghimpun cahaya seribu kunang-kunang :)

    Menjadi salah satu dari ribuan kunang-kunang yang tersebar di seluruh pelosok negeri adalah salah satu mimpiku. Membuat simfoni karya bersamanya juga termasuk salah satu mimpiku. Mimpi yang sempat tertunda tidak hanya sekali, namun tiga kali ini, rupanya masih milikku. Justru disaat aku tak terlalu menggebu untuk mengikutinya. Justru ketika aku teramat santainya dalam memenuhi persyaratannya. Bahkan saat pengumumanpun juga tak bergairah untuk melihatnya. Entahlah, rasanya nggak greget sama sekali.

    Setelah beberapa teman yang tahu kalau aku daftar bertanya terkait lolos tidaknya aku. Dan ada diantaranya yang curhat atas kekecewaannya karena nggak lolos. Padahal dia mupeng banget pengen ikutan. Aku baru berniat untuk melihatnya. Namun tidak bisa melihat karena terkendala internet. Akhirnya aku minta tolong ke temenku untuk melihatkannya. Tapi bukannya to the point lolos apa tidak. Malah direcokin. “deg degan nggak? feelingmu ketrima nggak?”, “duh, apaan sih?”, batinku. “Biasa aja. Kalau ketrima Bismillah, kalau nggak ketrima malah Alhamdulillah”, balasku.

    “Selamat”, sms terakhirnya berkata demikian malam itu. Namun aku tak menggubrisnya. Justru terdiam dengan sedikit simpulan senyum lalu terlelap. Dalam perjalanan ke dunia mimpi sempet terucap kata, “Pasti dia bercanda. Paling ya nggak lolos.”

    Kamis pagi, berpuluh-puluh jam setelah pengumuman. Hatiku tergerak penasaran untuk melihatnya. Iseng-iseng aku rebut keyboard teman sebelahku dan mulai mengeja huruf demi huruf portal Forum Indonesia Muda. Sempat dag dig dug jantungku ketika memasukkan username dan passwordku. Seketika rasa galau bersemayam dalam hati, ketika kata demi kata telah tereja dengan sempurna hingga menemukan sebuah kata yang sama dengan sms terakhir temanku.

    Ya Rabb, akankah ini jawaban atas segala penantian? Apakah ini jawaban kalimatku ketika memutuskan mendaftar padahal sudah teramat jenuh dengan alur pendaftaran dan ketidak-transparan penilaian seleksinya? Entahlah, namun azzam itu harus ditunaikan. “Jika FIM 15 memang baik untukku, maka Kau pasti memberikannya  untukku. Namun jika FIM 15 ini buruk untukku, maka Kau pasti akan memberikan yang jauh lebih indah darinya.” Dan Kau memberikannya sekarang. Sebuah kesempatan yang menundakan kesempatan (kurang lebih) 5000 pemuda lainnya di seluruh Indonesia untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman luar biasa mereka disana. Ya, memang inilah waktu yang  tepat dariNya. Dan sekali lagi Dia membuktikan padaku bahwasanya janjiNya tak pernah palsu. 

    “Klik”, terdengar suara mouse yang tersentuh secara sengaja oleh jemari sahabatku.
    “Yah, Bunda.. kok udah diklik, kan aku masih bingung bisa berangkat atau tidak?”, rengekku menyadari bahwa dia telah men-submit-kan diriku ke dalam seluruh rangkaian kegiatan FIM 15.
    “Udah, gpp. Berangkat aja.”, katanya memberikan motivasi yang disambung dengan ocehan teman-teman lainnya.

    Akhirnya aku terdiam dan berpikir. Galau? Ya, lagi-lagi sepertinya iya. :D aku mulai tanya-tanya siapa yang lolos dari ITS ke CP. Tapi diminta menunggu sampai waktu yang tepat untuk mengumumkannya secara resmi peserta FIM 15. Karena masih menunggu konfirmasi dari setiap peserta yang lolos seleksi. Sampai suatu saat ada yang mengabariku kalau temanku dari TC lolos juga. Teman? Emang kita berteman? Tahu aja juga baru… :D #peace.

    Rabu, 9 Oktober 2013. Rupanya Dia tak mau kalah dengan sahabat-sahabatku yang berlomba memenuhi wall FB dan inbox HP ku dengan ucapan dan doa atas hilangnya setahun jatah hidupku. Bahkan Dia sudah memberikan kabar baik itu 2 hari sebelum hari ini. Ya, mungkin memang Dia sudah merencanakannya. Memberikan tiket FIM 15 ini sebagai kado tersurat di samping kado-kado tersirat yang tak kalah indah. Ya, Dia memang selalu lebih mengetahui apa yang terbaik bagiku.  Sebagaimana dalam QS Al-Baqoroh:216,  “…Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu…”

    Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Dan sabar itu akan sangat manis buahnya jika dipetik disaat yang tepat.

    Kalimat itu seakan membiusku untuk terus bersabar dalam menghadapi tantangan perjalanan menuju Hari H Forum Indonesia Muda 15. Mulai dari persiapan persyaratan pelatihan, surat ijin, SK Dekan, Proposal pendanaan, SPJ LPJ, belum lagi tugas dan kuis yang tak mungkin diabaikan begitu saja. Serasa semua beban itu terkumpul jadi satu memenuhi ruang otakku.

    “Semangat, Riskha pasti bisa”, sahabat terdekat tak pernah henti untuk menyemangati. Meski sempat sms kegalauan jadi atau tidaknya aku berangkat kesana sudah melayang ke panitia. Dan sempat terucap, “Kalau minggu ke-8 sudah ETS sepertinya harus kutunda keberangkatanku.” Galau? Bingung? Tak dipungkiri rasa-rasa itu tiba-tiba muncul dan pergi. Berjalan beriringan dengan laju semangatku.

    “Dek, kalau mbak jadi adek, apapun yang terjadi mba akan ikut. Karena kita sudah komitmen untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Forum Indonesia Muda saat mengisi formulir pendaftaran. Itu sebuah janji. Dan Allah menyaksikannya.”, lembut kata seorang kakak yang dilayangkan melalui sms. Dan seketika membuat semangat yang sempat redup, menyala kembali.

    “Kenapa bingung? Adek beruntung sudah diberi kesempatan lho. Tidak semua yang daftar mempunyai kesempatan yang sama dengan adek. Coba bayangkan yang ditolak berapa? Jauh lebih banyak kan? Semangat dan sukses. Oleh-oleh ilmu dan pengalaman untuk yang disini nanti.”, kata seorang kakak lainnya yang dilayangkan melalui sms pula. Dan masih banyak lagi yang memotivasiku untuk tetap berangkat. Meski dalam hati masih berat memutuskannya.
    ***

    Hari yang dijanjikan panitia untuk mengumumkan peserta resmi FIM 15 sudah tiba. Alhasil sama-sama tahu siapa delegasi dari kampus biru. Alifta Ainin Qalbi Kartiko Putri, Bintang Wahyu Syah, Hans Roberto Widiasmoro, Ishom Muhammad Drehem, Riskha Tri Oktaviani,  dan Rizky Primachristi Ryantira Pongdatu. Nama-nama yang cukup asing bagiku. Ada dua yang sudah kutahu sebelumnya. Tapi ya hanya sebatas tahu. Tak sedikitpun lebih dari itu. (-_-)

    Pertemuan pertama
    Seusai sholat idul adha, aku berangkat ke Surabaya meski dengan berat hati. Belum puas rasanya melepas kangen pada keluarga. Ahad sore nyampe Magetan, Selasa pagi harus kembali ke kota pahlawan. Demi apa coba? Pengen berontak tapi ya mau gimana lagi? Sudah disepakati kalau selasa malam kumpul perdana peserta FIM 15 kontingen ITS. Juga tanggung jawab penyelesaian proposal pengajuan dana FIM 15.
    Bakdha maghrib, aku berangkat ke warnet untuk print proposal. Tapi ternyata tempat yang kutuju tidak buka. Aku putuskan untuk pulang kembali dan pergi lagi. Baru sampai depan gang. Si Ishom sudah misscalled misscalled seperti alarm.

    “Pokoknya itu proposal harus di print sekarang. Masak ga ada yang buka sih? Bla bla bla bla……”,

    “Oh meeeeeeennnnnnn, ini anak… gila yaaaa…. astaghfirullah…..”, batinku

    “ Iya, iya okeeee, tak coba cari lagi yang buka… tapi kalau telat bukan salahku ya?”,
     “yang telat nraktir :D”,

     “ Eh, dasar ya,… aku kan telatnya karena alasan syar’i. Memenuhi kepentingan kalian.. weee, jangan curang yaaa!!! ”

    Ku tabah-tabahkan hati. Kuberanikan diri meski ini pertama kali aku bersepeda motor agak jauh di waktu malam. Tidak ada teman berbincang. Hanya mata yang terus menatap jalan. Menikmati kesendirian dalam perjalanan pencarian warnet hingga menuju KFC Mulyasari.

    Minggu ke-8 #Antara berangkat dan tidak
    “Meninggalkan kuliah di minggu ke-8 itu, more than something”, —Riskha Tri Oktaviani

    “Biar pun segala usaha telah kulakukan dan segala perlengkapan sudah kupersiapkan. Namun kalau minggu ke-8 perkuliahan nanti ETS. Aku putuskan untuk menunda keberangkatanku.”

    “Sudah, berangkat saja.”

    “Tapi,”

    “ Nggak pake tapi-tapian…”

    Ya, rupanya galau itu masih saja berlanjut. Padahal tiket kereta PP Surabaya-Jakarta sudah dibelikan. tinggal mempersiapkan kebutuhan untuk disana dan berangkat disaat masanya kita harus berangkat. so simple sebenarnya. hanya hati yang galau ini saja yang membuat semua terasa berat.

    #Akhirnya kuputuskan IYA
    setelah perdebatan lama dengan batinku sendiri. akhirnya “IYA” adalah keputusan yang cukup berkonsekuensi. betapa tidak? aku melewatkan dua tes di minggu yang mana aku tidak berada di kampus perjuangan. mungkin bagi orang lain itu biasa. namun bagi orang sepertiku yang memilki kemampuan terbatas. merupakan suatu hal yang something ketika aku harus meninggalkannya. tentu sudah bisa ditebak, "gak dapat nilai di tes itu."

    Namun aku percaya, “Kemapuanku memang terbatas, tapi pertolongan Allah tidak pernah terbatas.”. ya itulah yang kuteguhkan dalam hati selama ini. Aku terus berusaha melobby ke dosen hingga akhirnya satu diantaranya aku bisa nyusul dan satunya aku harus mengikhlaskan untuk tidak mendapatkan nilai. ya, namun sekali lagi itu adalah PILIHAN. dan terkadang kita memang harus mengorbankan suatu hal untuk hal lainnya.

    #26 Oktober 2013
    ternyata ujian itu tak cukup ketika pra pemberangkatan dengan segala kerempongan proposal, persiapan, bekal, dan persyaratan. Namun ujian itu terus datang sampai pemberangkatan.

    Aku hanya melihatnya dari jauh tanpa kacamata. namun aku sudah bisa membaca sepertinya ada masalah di sana. terlebih ujian bagiku sendiri adalah, aku harus berangkat bersama teman dan kakak-kakak yang baru aku kenal dan semuanya laki-laki. tapi insyaAllah aku percaya. mereka bisa menjagaku. dan aku bisa menjaga diriku sendiri.

    "Ternyata nggak bisa dari Gubeng, seingatku dari Gubeng. aku lupa belum ngecek. dan ternyata dari Pasar Turi.", Ishom menjelaskan permasalahan pada kami, aku dan mas Hans. karena mas Bintang masih otw. katanya tadi kesiangan bangunnya.

    Aku tengok jam di HP. “Astaghfirullah, sudah jam segini.” batinku.

    "Ya sudah kita coba saja ke Pasar Turi naik Taksi.", tambahnya.

    Tanpa berpikir panjang, kami berusaha memburu waktu ke Stasiun Pasar Turi. Namun ternyata hasilnya nihil. keretanya sudah berangkat. dan aku hanya terdiam tertunduk. yang kupikirkan hanya satu “harusnya aku masih bisa ikut tes ekonometrika sekarang.”

    "ojok galau ris. tenang ae…", celetuk Ishom.

    "nggak kok.", balasku.

    Aku hanya terdiam dengan sesekali bersuara jika ingin berpendapat. sementara mereka bertiga memutar otak berpikir bagaimana caranya bisa berangkat ke Jakarta pagi ini juga. Namun sepertinya Allah lebih mengijinkan kami untuk menunda keberangkatan hingga nanti malam. ya, Al hasil kami beli tiket lagi dengan jam pemberangkatan 20.00.

    "Ke rumahku dulu nggak pa-pa ya?", kata Ishom.

    "Iya, Gpp.", jawab mereka.

    "Riskha,gpp kan?"

    "Mau gimana lagi,.. ya udah gpp.", kataku, kemudian menghela napas panjang. 

    Akhirnya kami berempat singgah dulu ke rumah Ishom sambil menunggu keberangkatan nanti malam. kami disambut ramah oleh abi dan uminya. yang mana sudah sering aku ketahui nama abinya, namun tidak pernah ikut kajian beliau. Ya, sudah bisa ditebak, beliau adalah  Ust.Sholeh Drehem.

    "Wah,cewek sendiri ya?",tanya Umi Ishom.

    "Iya, ibu.", jawabku sambil mencium tangan dan beliau melayangkan pelukan ala akhwat (cipika-cipiki).

    "Mba di kamar sini saja ya…"
    "Iya, ibu. Maaf merepotkan…"

    "Maaf ya, maklum kamarnya cowok.", jelas beliau.

    "Iya ibu nggak pa-pa. sekali lagi mohon maaf merepotkan. terimakasih juga."

    "Gpp mbak. Mbak istirahat dulu saja."

    kurang lebih seperti itu perbincangan yang masih kurekam jelas dalam ingatanku. ada rasa sungkan, pasti. rasa gak enak, apa lagi.

    Beberapa menit kemudian, umi Ishom, yang setelah perbincangan dengan beliau waktu sehabis makan siang baru aku ketahui nama beliau. Maryam Maziun. mengetuk pintu kamar dan mengantarkan segelas kopi susu hangat. stelah mempersilakan untuk meminum, beliau keluar kembali.

    Dalam batinku, perasaan tadi nawarinnya teh, kok bisa jadi kopi susu? Ah, entahlah. yang jelas. keluarga ini baik banget. hehe :)

    Karena mereka bertiga sudah disibukkan dengan dunia mereka dilantai atas. aku menikmati kesendirianku di kamar itu dengan bermunajat dan bermesraan dengan ayat demi ayat yang tersusun rapi di Al Quran. Begitu seterusnya hingga tak sengaja aku tertidur.

    #Maghrib
    Setelah semua selesai sholat. Kami berangkat ke Stasiun Pasar Turi. Lebih baik menunggu manis di sana. daripada harus mengulang kesalahan yang sama dan menanggung resiko yang sama #ketinggalan kereta.

    —bersambung
    10.11 , 21Januari 2014
    dalam pemanfaatan waktu luang yang sebenarnya tidak luang :D
    *risk*

    3 notes
    Show the 3 notes
  • rasyidalfath reblogged a video post 8 months ago

    rasyidalfath:

    Kagak liat RUGI, RUGI, RUGI sekali :D

    "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Al ‘Ankabuut [29]: 45)

    Archived in: #taujih #cilik #IndonesiaMengaji #ODOJ / 6 notes
    Show the 6 notes
  • greenndyshe published a photo post 8 months ago

    6 Langkah Mudah membuat sebuah VLOG - iniyangkubaca.org

    Ini terbuka untuk siapa saja. Baca bukumu dan ceritakan \o.o/

    Berbagi itu menyenangkan, menginspirasi itu mengasyikkan :D

    Archived in: #iniyangkubaca / 25 notes
    Show the 25 notes
  • greenndyshe published a photo post 8 months ago

    nananananniinnanana, hei kuns. Ayo eksis dengan cara yang anti-mainstream ~

    iniyangkubaca.org

    Archived in: #FIM #FIM15 #FIMNews #VLOG #iniyangkubaca / 7 notes
    Show the 7 notes
  • greenndyshe published a photo post 8 months ago

    LET’S MAKE A VLOG, kuns !

    iniyangkubaca.org

    Archived in: #VLOG #FIM #FIM15 #FIMNews / 5 notes
    Show the 5 notes
  • greenndyshe published a photo post 8 months ago

    Hello, kuns. Ayo merapat yang dari sabang sampai merauke \m/

    Persiapkan dirimu untuk mengejutkan Indonesia, menebar inspirasi, bergerak dengan kata dan menggerakkan hati Pemuda Pemudi Indonesia.

    Archived in: #FIM #FIMNews #FIM15 #projekbukuFIM15 / 13 notes
    Show the 13 notes
  • rerenitaputri published a text post 8 months ago
    Catatan Pattimura #1: Aku Mahasiswa, Aku untuk Bangsaku?

    Diskusi grup WhatsApp Pattimura, 3 Januasi 2014

    Notulensi: Renita PM dengan kontribusi konten dari para personil Pattimura :’)

    “Apa sih yang seharusnya dilakukan seorang mahasiswa demi kemajuan bangsa ini?”

    Sebuah pertanyaan yang terlontar di tengah percakapan sebuah grup (sebut saja Pattimura) pada malam itu, 3 Januari 2014. Bisa jadi, pertanyaan ini muncul bersamaan dengan arus ‘membuat resolusi’ yang sering digaungkan hampir semua orang di awal tahun 2014. Mainstream memang, tapi semoga menjadi sebuah kepedulian, di tengah kefokusan menyusun resolusi untuk manfaat pribadi, masih sempat berpikir untuk bangsa, dan mudah-mudahan konkret.

    Sebelum beranjak pada jawaban yang beraneka ragam sesuai dengan alur berpikir setiap orang. Baiknya kita bahas terlebih dahulu maksud dan pengertian dari pertanyaan yang dilontarkan. Setidaknya agar permasalahan yang dilontarkan mempunyai definisi yang jelas, yang disepakati bersama, sehingga arah diskusinya pun sesuai dengan track yang dipahami setiap peserta diskusi.

    Apa sih yang seharusnya dilakukan seorang mahasiswa demi kemajuan bangsa ini?
    Kemajuan? Apa definisi kemajuan yang dikehendaki?
    Mengapa harus dimajukan? Memangnya kondisi Indonesia saat ini seperti apa sehingga perlu dimajukan?
    Sebuah pertanyaan yang sebenarnya memang penting untuk ditanyakan. Sebab menurut beberapa orang, membangkitkan kesadaran mengapa kita harus melakukan sesuatu merupakan faktor yang sangat penting sebelum berbicara lebih jauh mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.

    Mengapa harus memajukan Indonesia?
    Mahasiswa, mereka adalah yang sedikit yang berkesempatan mengenyam bangku pendidikan tinggi, mereka yang menjadi harapan rakyat dan bangsa Indonesia, mereka yang terdidik dan terpelajar, mereka yang katanya mempunyai tugas sebagai agent of change, moral force dan iron stock. Sudah menjadi kewajiban untuk menjadi peka dan peduli dalam melihat kondisi bangsa. Ketika aktivitas akademik mengharuskan mereka untuk membaca berbagai literatur, maka membaca fenomena yang terjadi di dalam negeri kemudian menganalisisnya seharusnya dapat pula menjadi kebiasaan. Seberapa sering data dan fakta mulai dari yang dipaparkan oleh media maupun lembaga-lembaga survey statistik yang mengkaji berbagai fenomena sosial memberikan informasi perihal angka kesejahteraan rakyat Indonesia, pendapatan perkapita, jumlah penduduk miskin, kualitas pendidikan di Indonesia, kualitas kesehatan, perkembangan teknologi, berbagai kriminalitas yang terjadi, pelanggaran moral yang dilakukan oleh banyak orang mulai dari yang paham arti moralitas sampai mereka yang benar-benar jauh dari paparan moralitas, bencana alam dan bencana kemanusiaan, tantangan masa depan. Maka hal-hal tersebut sudah selayaknya, merupakan alasan yang kuat untuk dijadikan peng-aamiin-an bahwa ada yang perlu dimajukan (atau dibenahi) dari Indonesia.

    Alasan kedua, bisa jadi memajukan Indonesia memang bukan merupakan sebuah tujuan, melainkan sebuah konsekuensi logis. Kewajiban manusia dalam melaksanakan tugas penciptaannya adalah untuk menjadi manusia yang bermanfaat, dan segalanya akan dipertanggung jawabkan kelak di kehidupan selanjutnya (bagi yang percaya), maka sudah seharusnya melakukan sesuatu untuk menebar manfaat, mengajak pada kebaikan bagi semesta. Jika setiap orang berpikir demikian, mempunyai orientasi yang juga demikian, maka Indonesia yang lebih baik adalah sebuah konsekuensi logis. Alasan lainnya adalah dengan menghayati bahwa, Indonesia akan terus berkembang, entah menjadi negara yang akan seperti apa, ada atau tanpa aku. Sehingga yang perlu diilhami bukan “Apa yang telah Indonesia berikan untukku, tapi apa yang telah aku berikan untuk Indonesia”. “Dengan adanya aku atau tidak, Indonesia sudah maju dengan sendirinya. Bisa jadi (sebenarnya) aku bukan suatu bagian yang berpengaruh. Toh kalau aku memilih untuk tidak peduli, apa ruginya bagi Indonesia ? Kalau aku memilih untuk apatis apa ruginya bagi Indonesia. Jadi kalau kata Hamka, ‘Apa bedanya aku dengan kera di hutan?’”.

    Apa sih yang seharusnya dilakukan seorang mahasiswa demi kemajuan bangsa ini?
    (sudut pandang kita, sang pengubah)

    1. Belajar
    Menjadi insan yang terpelajar, harapannya dapat mempunyai penguasaan atas bidang ilmu yang akan menyumbangkan solusi untuk Indonesia. Belajar untuk membekali diri, agar perannya bagi bangsa ini tepat dan berdaya guna, bukan common sense, formalitas sebagai pemuda atau ajang coba-coba dan mengikuti trend. Belajar, mempelajari ilmu yang bermanfaat, yang memberi kemudahan bagi semua orang dan disebar luaskan untuk kemaslahatan banyak orang, bukan untuk kepentingan pribadi. Belajar juga merupakan sarana untuk mengotimalkan personal mastery. Sebab, menjadi pribadi yang mempunyai personal mastery, merupakan modal untuk sampai pada poin kedua dari pembahasan kali ini, yakni menginspirasi dan menggerakkan. Sebab inspirasi tidak berasal dari diri yang kosong. Sebab menggerakkan perlu kemampuan yang memadai.

    2. Menginspirasi dan Menggerakkan
    Sebuah kelanjutan dari belajar dan dengan melakukannya (menginspirasi dan menggerakkan)akan berdampak pada upgrading proses pembelajaran yang berkelanjutan. Hal ini mempunyai multiplier effect yang cukup banyak. Belajar- mempunyai bekal- menginspirasi dan menggerakkan orang lain- merasa perlu untuk lebih banyak menginspirasi- maka harus belajar lebih banyak lagi- lebih banyak yang dipelajari, maka yang dapat diinspirasi dan digerakkan akan lebih banyak lagi. Hal ini sejalan dengan quote seorang teman, “You want to change the world? Try to change yourself. If everybody in this world is workin t change themselves to be a better person every time, the world is truly changing”
    Dengan menginspirasi, kita berperan dalam sebuah perubahan. Dan mengubah, seharusnya tidak hanya berhenti pada dari semula ‘tidak dilakukan’ menjadi ‘dilakukan’ atau sebaliknya. Melainkan juga, bagaimana agar segala hal yang baik tersebut dapat tertanam secara sadar di diri masing-masing serta menjadi kebiasaan. Sebab kadangkala, orang-orang hanya akan terinspirasi ketika ia membutuhkan food brain atau food heart (?) sehingga hanya akan merasa sadar dan tergerak selama beberapa waktu tanpa menjadi sebuah kebiasaan. Dan itulah tantangannya, bagaimana agar semakin banyak para inspirator, semakin banyak yang menggerakkan, sehingga tidak ada alasan bagi rakyat Indonesia untuk tidak berubah menuju perbaikan tersebut.

    Pada realitanya, Indonesia sedang krisis keteladanan bukan? Banyak orang cerdas yang egois untuk kepentingannya sendiri, sementara banyak juga orang yang baik dan bijaksana walaupun ia tidak terlalu cerdas.
    Premis di atas menjadi penting untuk dibahas sebab orang cerdas yang seharusnya menjadi perumus dan pelaksana solusi bagi bangsa justru dengan kecerdasannya menghancurkan negerinya. Sementara banyak orang baik dan bijaksana yang terkadang tidak dapat memberikan dampak sebab ia tidak tahu bagaimana harus bertindak. Ketidakseimbangan inilah yang kemudian menjadi fenomena dua kutub yang ternyata menimbulkan permasalahan baru. Lantas bagaimana memberikan solusi atas fenomena ini?

    (Tentang mereka yang menjadi subjek perubahan)
    Dan ternyata masih banyak juga rakyat Indonesia yang tidak berkenan untuk diubah maupun bekerja sama untuk melakukan perubahan.

    Satu tantangan lagi untuk Indonesia, betapa banyak rakyat Indonesia saat ini yang ternyata juga sulit untuk diarahkan. Meskipun fasilitas untuk memperbaiki kondisi bangsa (contoh: pendidikan) yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kepedulian sudah semakin banyak, ternyata mayoritas generasi segala usia di bangsa ini sudah terlalu asyik dengan kebiasaan- kebiasaan saat ini (misal: kurang sadar pentingnya sekolah, terlalu banyak mengonsumsi hiburan di media dengan konten yang tidak mendidik, mengabaikan proses belajar dsb), bahkan mereka tidak peduli pada dampak ke depannya atau kalaupun tahu dan sepakat bahwa banyak kebiasaan saat ini yang berdampak buruk bagi masa depan, namun masih belum mau dan mampu bekerja sama untuk mengubahnya.

    Perpaduan antara kualitas diri dan lingkungan.
    Untuk mau mengubah dan mau diubah ternyata memerlukan keseimbangan antara faktor internal dan eksternal diri setiap individu. Kita perlu bicara mengenai sesuatu dalam diri manusia yang nature (seperti watak, karakter, sifat, kecenderungan kepribadian) serta lingkungan dan sistem yang cukup besar pengaruhnya bagi kualitas diri setiap individu. John Locke menyatakan bahwa ketika terlahir, manusia adalah selembar kertas putih yang sangat tergantung pada lingkungannya hendak memberikan sapuan warna apapun. Demikian halnya dengan paham materialisme dalam Madilog (Tan Malaka) bahwa manusia dibentuk oleh lingkungannya. Karena itu, perlu bagi kita untuk bicara mengenai sistem. Untuk pendidikan contohnya, sistem apa yang tepat untuk mengajarkan setiap individu tentang value, sesuatu yang membuat mereka menjadi bijaksana, menjadi sadar atas kewajibannya membangun negara, bukan sekadar menjadi cerdas. Sistem yang menanamkan karakter. Sistem yang terintegrasi dari keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan yang lebih luas lagi. Sistem yang mampu mengarahkan perilaku individu, yang jika menurut Bloom, setelah paham di ranah kognitif, kemudian tersadar secara afektif bahwa, “Oke gue memang harus berbuat demikian dan tidak boleh demikian karena alasan yang demikian” maka langkah berikutnya adalah bertindak nyata, ranah konatif. Yang lambat laun akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang baik tentunya.

    Ketika masa lalu yang berdampak pada masa kini sulit untuk kita ubah. Setidaknya kita bisa merencanakan masa depan.

    Lalu bagaimana memperbaiki kerugian masa kini disebabkan masa lalu yang tidak baik? Bagaimana mengubah sesuatu yang saat ini seakan-akan sudah menetap dan menjadi permasalahan yang meradang? Sedangkan menunggu anak muda ini berproses untuk bisa ikut ambil bagian masih sekitar 20 tahunan lagi?

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Tere Liye bahwa, “Ada dua waktu yang paling tepat untuk menanam pohon. Dua puluh tahun yang lalu, maka kau akan menuai hasilnya sekarang. Atau jika kau lupa menanamnya, maka masih ada waktu terbaik kedua, yakni sekarang, maka kau akan menuai hasilnya dua puluh tahun mendatang”. Kita sangat berkuasa untuk merencanakan masa depan.
    “Apa yang kau lakukan saat ini akan mengubah masa depan” (Paulo Coelho).

    Maka lakukan yang terbaik untuk bangsa ini dari sekarang, berawal dari diri sendiri, orang-orang terdekat, keluarga, teman, masyarakat. Dan persiapkan masa depan yang baik. Setidaknya dengan mempersiapkan diri menjadi pendidik yang baik. Kesimpulan yang *lagi-lagi ke sini*: Mempersiapkan calon ibu (dan calon ayah) yang mampu menjadi pendidik yang berkualitas.

    Setelah keresahan atas berbagai fakta yang menyesakkan dada, maka kita perlu menumbuhkan cinta dan rasa optimis terhadap bangsa ini. Bahwa Indonesia masih mempunyai potensi yang bisa dikembangkan. Dan Indonesia masih mempunyai anak-anak muda yang masih bisa diharapkan untuk kebaikan masa depan.


    Rumah, 07 Januari 2014 pukul 22:47

    Catatan khusus:

    Diniatkan untuk menebarkan keresahan bagi banyak orang, agar semakin banyak mereka yang mengaku cinta tanah air untuk berbuat sesuatu bagi Indonesia. Untuk menumbuhkan cinta dan optimisme bagi kemajuan Indonesia.

    Hasil notulensi setelah saya ditunjuk jadi notulen dari penunjukkan yang semena-mena :P
    Ditulis setelah membaca ulang transkrip chat di grup WhatsApp Pattimura pada Hari Jumat, 3 Januari 2014. Hasil email conversation pada percakapan pukul 22.06 s.d 01.30 yang ketika disalin dalam dokumen MS. Word mencapai 37 halaman -_-
    Diselingi banyak sekali senyum-senyum sendiri sambil sesekali terbahak sampai ditegur karena nggak jelas dan berisik malam-malam ketika membaca ulang percakapan aneh malam itu. Hasil dari obrolan absurd 37 halaman yang ternyata konten pentingnya saat ditulis ulang hanya menghasilkan karya 4 halaman (setelah disesuaikan) :P

    Merindukan kalian dengan percakapan random pentingnya lagi. Selamat malam, Pattimura!

    11 notes
    Show the 11 notes